Potensi Energi Baru
Terbarukan (EBT) Indonesia
Indonesia memiliki
Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar diantaranya,
Pembakit
listrik yang mengunakan tenaga air sebagai tenaga penggeraknya seperti, saluran
irigasi , sungai atau air terjun alam dengan cara memanfatkan tinggi terjunya
dan jumlah debit airnya.
Biomass 50 GW
Tumbuhan
biasanya menggunakan fotosintesis untuk menyimpan tenaga surya, udara, dan co2.
Bahan bakar bio (biofuel) adalah bahan bakar yang diperoleh dari
biomassa-organisme atau produk dari metabolism hewan., seperti kotoran dari
sapi d an sebagainya. Ini juga merupakan salah satu sumber energy terbaharui.
Biasanya biomass dibakar untuk melepas energy kimia yang tersimpan didalamnya,
pengecualian ketika bio fuel digunakan untuk bahan bakar fuel cell (missal
direct methanol fuel cell dan direct ethanol fuel cell).
ENERGI SURYA 4,80 KWH/M2/HARI
Pembangkit
listrik yang mengubah energi surya menjadi energi listrik. Pembangkita listrik
bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung dengan pemusatan energi
surya. Photovoltaic menubag secara langsungenergi cahaya menjadi listrik
mengunakan efek fotoelektrik. Pemusatan energi surya mengunakn sitem lensa atau
cermin dikombinasikan dengan sistem pelacak untuk memfokuskan enrgi matahari ke
satu titik untuk mengerakan mesin kalor.
ENERGY ANGIN 3-6 M/DET
ENERGI NUKLIR 3 GW
Salah
satu pemanfaatan teknik nuklir dalam bidang energi saat ini sudah berkembang
dan dimanfaatkan secara besar-besaran dalam bentuk Pembangkit Listrik Tenaga
nuklir (PLTN), dimana tenaga nuklir digunakan untuk membangkitkan tenaga
listrik yang relatif murah, aman dan tidak mencemari
lingkungan.
Pemanfaatan tenaga nuklir dalam bentuk PLTN mulai
dikembangkan secara komersial sejak tahun 1954. Pada waktu itu di Rusia (USSR),
dibangun dan dioperasikan satu unit PLTN air ringan bertekanan tinggi (VVER =
PWR) yang setahun kemudian mencapai daya 5 Mwe. Pada tahun 1956 di Inggris
dikembangkan PLTN jenis Gas Cooled Reactor (GCR + Reaktor
berpendingin gas) dengan daya 100 Mwe.
Pada tahun 1997 di seluruh dunia baik di negara maju
maupun negara sedang berkembang telah dioperasikan sebanyak 443 unit PLTN yang
tersebar di 31 negara dengan kontribusi sekitar 18 % dari pasokan tenaga
listrik dunia dengan total pembangkitan dayanya mencapai 351.000 Mwe dan 36
unit PLTN sedang dalam tahap kontruksi di 18 negara.
Data potensi EBT
terbaru disampaikan Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dalam
acara Focus Group
Discussion tentang Supply-Demand Energi Baru
Terbarukan yang belum lama ini diselenggarakan Pusdatin ESDM.
Saat ini
pengembangan EBT mengacu kepada Perpres No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi
Nasional. Dalam Perpres disebutkan kontribusi EBT dalam bauran energi primer nasional
pada tahun 2025 adalah sebesar 17% dengan komposisi Bahan Bakar Nabati sebesar 5%,
Panas Bumi 5%, Biomasa, Nuklir, Air, Surya, dan Angin 5%, serta batubara yang
dicairkan sebesar 2%.
Untuk itu
langkah-langkah yang akan diambil Pemerintah adalah menambah kapasitas
terpasang Pembangkit Listrik Mikro Hidro menjadi 2,846 MW pada tahun 2025, kapasitas
terpasang Biomasa 180 MW pada tahun 2020, kapasitas terpasang angin (PLT Bayu) sebesar
0,97 GW pada tahun 2025, surya 0,87 GW pada tahun 2024, dan nuklir 4,2 GW pada
tahun 2024.
Upaya yang
dilakukan untuk mengembangkan biomasa adalah mendorong pemanfaatan limbah
industri pertanian dan kehutanan sebagai sumber energi secara terintegrasi
dengan industrinya, mengintegrasikan pengembangan biomassa dengan kegiatan
ekonomi masyarakat, mendorong pabrikasi teknologi konversi energi biomassa dan
usaha penunjang, dan meningkatkan penelitian dan pengembangan pemanfaatan
limbah termasuk sampah kota untuk energi.
Upaya untuk
mengembangkan energi angin mencakup pengembangan energi angin untuk listrik dan
non listrik (pemompaan air untuk irigasi dan air bersih), pengembangkan
teknologi energi angin yang sederhana untuk skala kecil (10 kW) dan skala
menengah (50 - 100 kW) dan mendorong pabrikan memproduksi SKEA skala kecil dan
menengah secara massal Pengembangan
energi surya mencakup pemanfaatan PLTS di perdesaan dan perkotaan, mendorong komersialisasi
PLTS dengan memaksimalkan keterlibatan swasta, mengembangkan industri PLTS
dalam negeri, dan mendorong terciptanya sistem dan pola pendanaan yang efisien
dengan melibatkan dunia perbankan.
Untuk mengembangkan
energi nuklir, langkah-langkah yang dambil pemerintah adalah melakukan
sosialisasi untuk mendapatkan dukungan masyarakat dan melakukan kerjasama dengan
berbagai negara untuk meningkatkan penguasaan teknologi.
Sedang
langkah-langkah yang dilakukan untuk pengebangan mikrohidro adalah dengan mengintegrasikan
program pengembangan PLTMH dengan kegiatan ekonomi masyarakat, memaksimalkan
potensi saluran irigasi untuk PLTMH, mendorong industri mikrohidro dalam negeri,
dan mengembangkan berbagai pola kemitraan dan pendanaan yang efektif.
Untuk mendukung
upaya dan program pengebangan EBT, pemerintah sudah menerbitkan serangkaian
kebijakan dan regulasi yang mencakup Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang Kebijakan
Energi Nasional, Undang-Undang No. 30/2007 tentang Energi, Undang-undang No. 15/1985
tentang Ketenagalistrikan, PP No. 10/1989 sebagaimana yang telah diubah dengan
PP No. 03/2005 Tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1989 tentang
Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik dan PP No. 26/2006 tentang Penyediaan
& Pemanfaatan Tenaga Listrik, Permen ESDM No. 002/2006 tentang Pengusahaan
Pembangkit Listrik Tenaga Energi Terbarukan Skala Menengah, dan Kepmen ESDM No.1122K/30/MEM/2002
tentang Pembangkit Skala Kecil tersebar. Saat ini sedang disusun RPP Energi
Baru Terbarukan yang berisi pengaturan kewajiban penyediaan dan pemanfaatan energi
baru dan energi terbarukan dan pemberian kemudahan serta insentif.
PEMANFATAN LIMBAH PENGOLAHAN KELAPA SAWIT
Pemanfaatan limbah Pengolahan Kelapa Sawit seperti
Biomasa (FiberdanShell)
dan Biogas (Limbahcair) lebih REALISTIS untuk meningkatkan Ratio
Elektrifikasi melalui program listrikperdesaan, sebab:
1. Tingginya Potensi Limbah
sebagai sumber Energi. Sisa Limbah Sawit yang tidak digunakan oleh PKS dapat mengasilkan
Tenaga Listrik sebesar 905,8 MW (ShelldanFiber) dan 112 MW
(Limbahcair/ Biogas).
2. Umumnya PKS
berada diperdesaan (Remote area), sehingga lebih realistis dan lebih ekonomis
untuk mengangkat Ratio Elektrifikasi diperdesaan. Penggunaan 50% potensi limbah sawit dapat meningkatkan ratio
elektrifikasi sebesar 4,4% dari pemanfaatan limbah cair (Biogas) dan 35,67% dari pemanfaatan Biomasa (Fiber& Shell).
3.Dapat mengurangi penggunaan BBM dan Biaya Produksi
PLN, sebab listrik perdesaan umumnya menggunakan PLTD.
SEKIAN TERIMAKASIH……….


Tidak ada komentar:
Posting Komentar